Suatu hari dalam sebuah perjalanan memantau pelaksanaan program pengembangan Kawasan Terpadu (PKT) di beberapa desa di Sulawesi Selatan, saya sempat mampir sholat Maghrib di sebuah mesjid kecil di pinggir jalan Propinsi.
Jemaahnya tidak banyak, beberapa mobil "musafir" parkir di halaman mesjid kecil itu. Saya tidak kenal imamnya, karena saya pendatang dan sedikit terlambat, hanya bajunya yang sepintas kulihat, motif garis vertikal.
Ketika sampai pada bacaan setelah Al Fatihah, kalau tidak salah ingat sang Imam membaca surah Al Baqarah, dan maaf, beberapa kali terjadi kesalahan bacaan yang mendapat teguran santun dari para makmum dengan ucapan "subhanallah", sambil yang tepat di belakangnya bersuara lebih "keras" dari makmum lainnya untuk membantu meluruskan bacaan sang Imam.
Kali ketiga terjadi kesalahan bacaan, bahkan sepertinya sang Imam agak grogi sehingga lupa sambungan bacaannya meski sudah dipandu oleh pengikut (ma'mun) yang ada di belakangnya. Selanjutnya yang terjadi adalah pembelajaran yang begitu indah.
Sang makmum mengambil alih kepemimpinan dan melanjutkan bacaan dan memimpin sholat sampai selesai. Kemana sang Imam sebelumnya pergi? Tetap di baris (shaf) depan? Kalau dia disitu pasti akan mengganggu sang Iman pengganti dan pengikut sholat lainnya.
Sang mantan Imam rupanya keluar dari pintu sampng dekat mimbar (ini rupanya emergency exit) dan pergi berwudhu lagi lalu mengambil posisi sebagai makmum (pengikut) di posisi paling akhir. Saya mengetahui itu karena setelah sholat saya masih sempat mengenali baju sang "mantan" imamya yang bermotif garis-garis dan dia masih melanjutkan satu rakaat sholatnya yang tertinggal.
Saya masih sempat menungguinya selesai berdoa dan menyalaminya sambil menanyakan beberapa hal berkaitan dengan kejadian tadi. Rupanya dia juga "musafir" yang lewat dan tadi saat sholat belum dimulai dia katanya didaulat menjadi Imam. Ia awalnya memang sudah ragu karena ia mengakui hafalan Al Qur'annya belum terlalu baik. Tapi karena melihat usianya yang relatif tampak lebih tua dengan uban yang sudah kelihatan di sisi kiri kanan kepalanya, ia akhirnya menerima amanah itu.
Mungkin itulah sebabnya di dalam memilih Imam sholat, disyaratkan adalah yang paling baik bacaan atau hafalannya diantara para jamaah - dan saya juga mengingat dari guru agama saya bahwa yang sebaiknya berdiri tepat di belakang Imam adalah mereka yang bisa bertindak sebagai "penuntun" dan "pengoreksi" bila sewaktu-waktu Imam lupa atau salah dalam bacaannya.
Di sini tidak dikatakan bahwa yang terpenting untuk diangkat menjadi imam adalah yang paling baik akhlaknya, paling jujur, paling berintegritas dan sebagainya yang biasa kita katagorikan sebagai ber-KARAKTER. Karena memang sulit menilai itu dalam sekejap apalagi di tengah kerumunan jamaah, terutama bila kebetulan kebanyakan musafir yang jarang atau mungkin baru pertama kali bertemu.
Kemampuan membaca dan menghafal bacaan dengan tajwid yang baik adalah KOMPETENSI utama bagi seorang Imam, termasuk dalam kondisi yang urgen sekalipun. Kemudian setelahnya, agar bisa tetap mendapat amanah sebagai Imam, maka KARAKTER menjadi persyaratan mutlak.
Saya ingin fokus membicarakan mengenai mekanisme suksesi seorang Imam sholat yang mudah-mudahan tidak sering-sering terjadi di tengah perjalanan sholat, karena bagaimanapun sedikit agak mengganggu kekhusyuan sholat. Yang pasti setelah kejadian suksesi di tengah perjalanan sholat seperti yang saya lihat di mesjid kecil itu, saya melihat jamaah lain tak satupun datang "menghujat" mantan Imam yang berbuat "kesalahan" tadi. Hampir semua jamaah yang sempat mengenalinya sebagai "mantan" Imam yang "dilengserkan", datang menyalami dengan perkataan-perkataan yang santun dan menyemangati.
"Yah, tidak apa-apa, manusia memang tempat segala kesalahan dan kekhilafan," begitu kata-kata penyemangat yang sempat terdengar di telinga saya. Termasuk yang menggantikannya menjadi Imam mendatanginya dengan didahului permintaan maaf, terimakasih dan sepenggal kalimat penyemangat. Indah sekali.
Saya jadi kebayang andaikata pola pemilihan pemimpin sholat (imam) dan pola suksesi bila terjadi keadaan darurat maupun keadaan normal diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka janji Tuhan bahwa: "Sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar", akan benar-benar kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam memilih Presiden nantinya, tentu yang kita perlu dukung adalah kandidat yang memiliki KOMPETENSI manajemen pemerintahan, bernegara dan bermasyarakat yang mumpuni. Bagaimana melihat hal ini? tentu saja dari "track record" sepanjang perjalanan hidup sang kandidat di berbagai kesempatan lain saat mendapat "amanah" sebagai pemimpin, apakah pemimpin organisasi politik, profesi, lembaga negara, lembaga bisnis, LSM dan sebagainya.
Karena kita semua bukan "muhajirin" atau pendatang di negeri kita ini, tentu kitapun memiliki kemewahan untuk menilai KARAKTER figur yang akan kita dukung sebagai "Imam" di dalam memimpin negara ini, setidaknya dalam lima tahun ke depan. Saya yakin kita bisa melakukan penilaian ini secara arif bijaksana karena figur "imam" yang nantinya akan diusulkan saya yakin bukan "tarzan" dari rimba raya yang tidak kita kenal siapa ayahnya, ibunya, kelakuannya dan tindak tanduknya selama ini.
Bila nantinya terpilih salah seorang diantara kita yang menjadi "Imam" negara ini, maka siapapun yang usulannya tidak terakomodasi sebaiknya berbesar hati untuk menjadi pengikut (makmum) yang santun. Ini terutama penting dihayati oleh saudara-saudari saya yang beragama Islam karena sepanjang hidup saya belum pernah melihat ada demo di depan mesjid yang memprotes penunjukan Imam mesjid. Kalau demo memprotes panitia pembangunan mesjid, pernah sih beberapa kali, tapi tidak sampai anarkis dan tidak dilakukan saat sholat sedang berlangsung, apalagi pakai pengeras suara "TOA" yang memekakkan telinga.
Bagi setiap pendapat yang berbeda, tetap tersedia mekanisme menjadi "oposisi". Kalau urusan mesjid barangkali bisa diselesaikan dengan membangun mesjid sendiri sambil mengumpulkan jemaah yang sepaham (Inipun sudah tergolong tidak bijak). Tapi kalau urusan oposisi dalam hal bernegara, rasanya tidak bijak untuk membuat "negara baru".
Apapun bentuk alternatif "oposisi" yang dipilih, jangan sampai menjadi oposisi yang destruktif, karena yakinlah bila Anda atau keturunan Anda masih berkeinginan menjadi Imam di kemudian hari, salah satu yang dinilai oleh rakyat adalah KARAKTER yang Anda tunjukkan saat berada pada posisi sebagai "OPOSISI".
Jadi mari kita sambut suksesi kepemimpinan di negeri ini (baik walikota, Bupati, Gubernur maupun Presiden) dengan terutama mempertimbangkan aspek KOMPETENSI dan KARAKTER calon yang akan diusulkan. Karena bagaimanapun tanggungjawab akan dipikul bersama antara yang dipilih dan yang memilihnya.
Selamat berkompetisi secara sehat dan santun agar kita semua yang hidup di era ini tidak menjadi contoh buruk bagi generasi berikutnya. Salam Persaudaraan Dunia Maya.
Jakarta 09 Februari 2009
Ben Baharuddin Nur
(pengamat).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar