Senin, 09 Februari 2009

EVOLUSI FIGUR PEMIMPIN: ETIKA KARAKTER VS ETIKA KEPRIBADIAN

Ronald Reagen, dari artis menjadi Presiden AS - Arnold Schwaznegger akhirnya jadi Gubernur - Obama menang telak - Artis pada berlomba-lomba jadi politikus - dan banyak diantaranya yang berhasil. Fenomena apakah ini?

Saya mencoba berbagi jawaban melalui catatan ini, atas beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh peserta pelatihan kepemimpinan yang saya fasilitasi. Mudah-mudahan catatan ini juga bisa menjawab mengapa banyak kandidat calon presiden berani merogoh saku sampai puluhan milliar untuk membayar kampanye di stasiun televisi.

Beberapa puluh tahun lalu, DR. Stephen R. Covey melakukan sebuah penelitian untuk mencari tahu bentuk evolusi dari figur yang oleh para pengikutnya disebut sebagai pemimpin. Intinya, Covey ingin melihat apa yang melatari seseorang dipilih sebagai pemimpin. Penelitian kepustakaan ini dilakukan dalam rentang pemimimpin yang pernah ada dalam kurun waktu 200 tahun (1778 - 1978).

Dan Covey menemukan sebuah fenomena menarik, sekaligus membuktikan adanya evolusi kepemimpinan dan bahkan pergeseran drastis setelah tahun 1962. Mengapa tahun 1662? Tak lain karena tahun itu bisa disebut sebagai momentum revolusi komunikasi massa karena terjadinya "booming" televisi yang dapat ditemukan hampir di semua rumah tangga di AS. Setiap anggota rumah tangga akhirnya bisa melihat dan mengingat lebih banyak figur, terutama yang sering muncul di layar kaca.

Sebelum tahun 1962, masih terlihat jelas sebuah pola yang hampir sama ketika seseorang dielu-elukan sebagai pemimpin yakni: sederhana, berani, jujur, sabar, tahan banting, konsisten pada misi perjuangannya dan memiliki integritas tinggi. Popularitas mereka melegenda melalui pesan dari mulut kemulut dari orang-orang yang bersinggungan atau melihat langsung kehidupan sang tokoh. Di situ ada George Washington, Abraham Linclon dan sederetan nama melegenda lainnya hingga kini.

Setelah 1962, figur atau tokoh yang kemudian disebut oleh masyarakat sebagai figur "pemimpin" adalah mereka yang sering muncul di TV, melakukan orasi yang berapi-api, memperlihatkan kedekatannya kepada orang kecil saat disorot kamera, memberikan sumbangan untuk kegiatan sosial (kaya + dermawan) dan bintang film yang film tuanya diputar di TV ikut-ikutan memanen popularitas.

Tak heran bila Martin Luther King Jr. lebih populer dari Malcom X, gurunya, karena Martin Luther King lebih jago berorasi sehingga selalu menjadi "news maker" (pembuat berita). Ditambah lagi Martin Luther juga berani, sederhana, jujur dan konsisten pada misi perjuangannya.

Makanya tidak mengherankan bila kemudian Ronald Reagen, sang bintang film cowboy begitu mulus jalannya menuju kursi presiden dibanding politisi lainnya yang menjadi pesaingnya yang baru muncul di TV menjelang pemilihan presiden.

Bung Karno pun tak urung menjadi idola dunia kala itu karena liputan TV internasional yang meskipun belum bisa melakukan siaran langsung dan filmnya hitam putih, tapi bisa menayangkan orasi Sang Proklamator berulang-ulang, terutama mengekspos keberanian Presiden Pertama RI tersebut melawan kapitalisme Amerika yang banyak bersoal de negara-negara bekas jajahan Belanda dan para sekutunya.

Figur pemimpin yang saya sebut tadi kebetulan selain memiliki etika karakter (berani, konsisten pada misi perjuangannya, berintegritas, tabah, rendah hati dan jujur) juga memiliki etika kepribadian (jago orasi, berpenampilan menarik, kharismatik), sehingga bagaimanapun tetap melegenda.

Lalu bagaimana figur pemimpin dewasa ini? Mohon maaf saya katakan,kebanyakan populer bukan karena etika karakternya yang dibicarakan dari mulut ke mulut oleh pengikutnya melainkan karena sering muncul di media massa, terutama di layar televisi. Mereka dipopulerkan oleh media sehingga hal itu menjadi trend. Bintang film dan mantan bintang film dipastikan lebih memiliki kans (chance) atau peluang menjadi kepala daerah, anggota DPR dan jabatan politis lainnya dibanding seorang camat, guru, lurah, kepala desa yang jujur, pekerja keras, rendah hati, peduli kepada nasib warga melalui tindakan nyata, tapi jarang disorot kamera.

Obama, mantan pekerja LSM, pebisnis, senator illinois sangat menyadari fenomena pencitraan melalui media massa sehingga selain membangun etika karakternya dari bawah dengan berusaha jujur, tabah dari berbagai pelecehan, menghindari dendam, pembelajar dan lain-lain, juga tak lupa mengembangkan etika kepribadian dengan berlatih menjadi orator yang lugas, berpenampilan elegan, dekat dengan media dan merambah dukungan/ simpati melalui dunia maya termasuk di Facebook.

Memang, tak bisa dipungkiri sekarang ini kita hidup di era informasi/komunikasi. Dunia makin digital dan terhubung dengan cepat antar individu, wilayah bahkan lintas negara. Godaan menggunakan piranti informasi/komunikasi semakin merebak. Tak sedikit figur yang berani membayar Rumah Produksi dengan mahal untuk membuat iklan pencitraan yang "terlihat" menyentuh dan membayar mahal stasiun TV untuk menyiarkannya berulang-ulang. Ini sama sekali tidak salah, tuntutan zaman memang menghendaki itu.

Yang salah adalah ketika yang dijadikan tumpuan atau modal utama semata adalah instrumen-instrumen komunikasi/informasi itu saja untuk membangun pencitraan mengenai kepribadian sang figur. Etika karakter yang meliputi kerendahan hati, integritas (satu kata dengan perbuatan), ketabahan, konsistensi pada missi perjuangan yang dijanjikan, juga benar-benar mendapatkan perhatian untuk disadari dan dibentuk sejak dini.

Etika kepribadian memang akan mampu mengantar seorang figur pemimpin hingga ke puncak, tapi etika karakterlah yang akan membuat sang figur bertahan lebih lama di puncak dan bahkan setelahnya akan melegenda menembus batas zaman.

Seorang figur pemimpin memang butuh dana untuk mebiayai "pencitraan" dirinya agar mendapatkan simpati, tapi jangan karena itu lalu kemudian berusaha mengumpulkan dana dari sumber-sumber dan cara-cara yang bisa menyengsarakan rakyat. Bukankah yang diperjuangkan adalah kemaslahatan rakyat?

Ini sekelumit catatan saya buat rekan-rekan tercinta yang sedang berusaha meraih simpati rakyat agar diberikan amanah sebagai wakil rakyat, sebagai Bupat, Walikota, Gubernur, Presiden dan jabatan politis lainnya. Juga kepada rekan-rekan yang telah mendapatkan amanah, saatnya etika karakter Anda diuji, benar-benar emas atau hanya sepuhan.

Selamat berjuang, selamat berkarya, sukses menyertai kita semua.

Salam Persahabatan dunia maya - Ben Baharuddin Nur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar