H Abdul Aziz Angkat, Ketua DPRD Sumatera Utara telah berpulang ke Haribaan Ilahi. Ajal manusia memang di tangan Tuhan, tapi penyebabnya setidaknya bisa menjadi perenungan bagi kita yang masih diberi kesempatan menghirup udara kehidupan di bumi Tuhan ini.
Sepanjang akhir pekan ini, saat stasiun televisi negeri ini menyiarkan berita, perasaan miris bergolak di dalam dada saya. Miris melihat seorang anak bangsa yang kebetulan mendapat amanah sebagai Ketu DPRD Sumatera Utara, di tengah masyarakatnya, di dalam kantornya mendapat perlakuan yang tidak manusiawi "atas nama", sekali lagi "atas nama" DEMOKRASI.
Sekelompok orang menuntut diagendakannya pembahasan pembentukan Propinsi Tapanuli, sementara konon (maaf saya juga belum tahu persis kebenarannya), anggota DPRD yang sedang bersidang di dalam gedung itu tidak mengagendakannya - tentu saja masing-masing pihak memiliki pertimbangan mengapa sesuatu dikatagorikan "harus" dan lainnya berpendapat "tidak harus".
Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dan sangat manusiawi. Untuk itulah dikembangkan pendefinisian kata DEMOKRASI, tak lain untuk mengakomodasi perbedaan pendapat secara lebih berkeadilan dan menghindarkan pihak yang kuat (dominan) melakukan pemaksaan kehendak dan pendapat kepada pihak yang lemah (minoritas).
Saya tiba-tiba teringat cerita guru agama saya tentang proses penyelesaian perbedaan pendapat antara Tuhan dan para malaikat ketika Tuhan berkehendak menciptakan manusia ke bumi ini. Sebahagian malaikat berpendapat bahwa belum mendesak untuk menciptakan manusia ke bumi ini, apalagi ada indikasi bahwa mahluk baru ini kemungkinan hanya akan membawa kerusakan dan saling berbunuhan.
Tuhan (maaf tak ada niat mempersonifikasi), menurut guru agama saya, bersabda kepada para malaikat yang tidak setuju tersebut bahwa diri-Nya lebih tahu mengenai apa yang akan dilakukan-Nya. Lalu para malaikat menerima, realitasnya Tuhan memang Maha Tahu dan Maha Kuasa. Dimintai pendapat saja oleh Yang Maha Mengetahui, sudah merupakan satu kehormatan tentunya bagi para malaikat itu.
Saya meng-imani kisah ini sebagai suatu bentuk pembelajaran dalam mengelola kekuasaan dan memberikan penghargaan kepada pihak lain. Karena sebagai pihak Yang Maha Kuasa, bisa saja Tuhan langsung menciptakan manusia tanpa harus membuang waktu meminta pendapat para malaikat yang dapat dipastikan akan taat pada perintah Allah.
Ketika Adam kemudian diciptakan, maka perbedaan pendapat lagi-lagi timbul. Malaikat yang sedari awal sudah menerima langsung memberikan penghormatan kepada Adam. Tetapi sekelompok "malaikat" lainnya menolak, bukan lagi soal urgen tidaknya pencptaan Adam, melainkan pada aspek kepantasan. Kata sang "malaikat pembangkang" yang kemudian dinamai iblis, tidak pantas mereka yang terbuat dari "api" tunduk pada manusia yang terbuat dari "tanah".
Tuhan Yang Maha Kuasa bisa saja menggunakan "kekerasan" untuk membuat iblis tunduk dan menerima keputusan-Nya tanpa syarat. Tetapi di sinilah letak pembelajarannya. Tuhan tetap "menghargai" pendapat kelompok "pembangkang", dan hanya mengingatkan resiko yang kemungkinan dipikul dari sikap membangkang itu, yakni akan menjadi penghuni neraka.
Apakah urusannya selesai? Tidak sesederhana itu. Iblis menerima konsekuensi dari pembangkangannya namun meminta kompensasi untuk dapat hidup sepanjang jaman dan kebebasan untuk tetap bisa mempengaruhi anak cucu Adam nantinya untuk bersama-sama menjadi penghuni neraka. Tuhan Yang Maha Kuasa bisa saja menolak permintaan kompensasi itu pada kedudukan-Nya sebagai yang Maha Kuasa. Siapapun pasti sepakat dengan logika saya ini.
Faktanya, Tuhan menyetujui "proposal gila" dari para iblis itu dan hanya mengingatkan bahwa Tuhan akan memperlengkapi Adam dan anak cucunya dengan instrumen akal, hati dan jiwa agar nantinya bisa membedakan mana yang merupakan "ajakan" atau godaan iblis dan mana yang merupakan jalan menuju kemuliaan.
Begitulah yang saya ingat dari guru agama saya dulu. Sebuah kisah yang juga terurai jelas di dalam Al Qur'an, yang setidaknya menyiratkan pembelajaran penting tentang makna DEMOKRASI dan sikap DEMOKRATIS meskipun terbuka peluang yang maha luas untuk bersikap OTOKRATIS.
Ketika seseorang yang beriman, meyakini eksistensi Allah dengan segala sifat-sifat-Nya tidak mampu menerima perbedaan pendapat secara elegan dan memberikan ruang untuk eksisnya "oposisi" sebagaimana hak "oposisi" yang diberikan Tuhan kepada iblis, maka sesungguhnya kita gagal menerima pembelajaran yang luar biasa yang justru dari kisah penciptaan diri kita sebagai manusia.
Penggunaan kekerasan di dalam menyikapi perbedaan pendapat sebenarnya manifestasi dari bentuk ketaklukan manusia pada "kubu iblis" daripada mempertahankan kemuliannya sebagai manusia. Menyikapi perbedaan pendapat dengan memberikan ruang dan sikap yang adil bagi setiap bentuk perbedaan pendapat adalah manifestasi dari penerimaan diri kita apa adanya sebagai manusia yang sebahagian sisinya adalah "malaikat" dan sebahagian adalah sisi "iblis".
Demokrasi bagi saya bukan sekedar "suara terbanyak" dengan mekanisme jalan pintas dalam bentuk "voting". Demokrasi bagi saya adalah kemampuan manusia-manusia yang bermartabat mulia untuk menerima perbedaan pendapat dan tetap mengayomi orang yang berbeda pendapat secara berkeadilan dan tetap menjaga martabat serta kehormatannya, karena bagaimanapun berbeda pendapat adalah pilihan dengan konsekuensi logis yang sudah diperhitungkan sampai pada batas yang bisa ditoleransi.
Semoga kepergian Bapak H. Abdul Aziz Angkat sebagai "martir" dari sebuah bentuk kehidupan berdemokrasi yang sedang dibangun di negeri ini, tidak menyisakan balas dendam melainkan sebuah perenungan bagi kita semua untuk lebih menata sikap dan perilaku 'BERDEMOKRASI" bagi kemajuan dan kemaslahan bangsa ini.
Mudah-mudahan dengan pembejalaran yang mahal ini yang telah mengantar bapak H. Abdul Aziz Angkat meninggalkan "arena" lebih awal tidak menjadi peristiwa yang sia-sia, karena hanya dengan itu tragedi ini menjadi amal jariyah bagi Almarhum, meninggalkan sesuatu yang bermanfaat sebagai pembelajaran bagi kita semua.
Selamat jalan Bapak H. Abdul Aziz Angkat, semoga Tuhan Yang Maha Esa menerima beliau dengan segala kelapangan di sisi-Nya. Amin.
Jakarta, 9 Februari 2009
Ben Baharuddin Nur
(Pengamat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar