Senin, 09 Februari 2009
“ ’SEDEKAH’ POLITIK VS SEDEKAH MURNI”
Ada seorang kandidat kepala daerah di suatu daerah yang sangat kecewa atas perilaku pemilih yang dianggapnya "tidak tahu berterimakasih". Pasalnya, ia merasa bahwa dialah yang paling banyak mengeluarkan dana kampanye diantara kandidat-kandidat rivalnya, tetapi ternyata dia kalah juga.Bahkan yang lebih mengecewakan sang kandidat justru karena dikalahkan di kantong-kantong suara yang dipastikannya sudah pasti mayoritas memihak kepadanya karena disitulah ia paling banyak mengguyurkan 'sedekah politik' berupa sembako, baju kaos bahkan dalam bentuk tunai.
Apa sebenarnya yang menjadi penyebab "kekalahan" itu? Mungkin memang rivalnya lebih baik, tetapi setidaknya ada kontribusi kekalahan dari kesalahan "bersedekah", yakni saat kepentingan si pemberi sedekah jelas di depan mata pihak yang menerima sedekah dan bahkan pihak yang tidak kebagian sedekah. Kepentingan apa gerangan? Ya, apalagi kalau bukan pesan sponsor "Suaramu buat saya ya?". Sejumlah penerima sedekah memang pada akhirnya menukar suaranya dengan "sedekah politik" yang terbanyak yang diterimanya, tetapi sejumlah orang yang sebenarnya diam-diam akan menyumbangkan suaranya secara sukarela buat kandidat yang bersangkutan – tak lain karena merasa satu rumpun, sekampung halaman dan alasan primordial lainnya, pada akhirnya jadi massa mengambang.
"Ya kan dia sudah membagikan sesuatu kepada orang-orang, jadi silahkan saja yang sudah kebagian memilih dia, kalau saya, nanti sajalah saya putuskan di dalam bilik suara. Ini kan Pilkada yang sifatnya rahasia." Begitu kira-kira celetukan dari calon pemilih mengambang, yang (maaf) biasanya jumlahnya jauh lebih banyak dibanding mereka yang sempat dijangkau oleh "sedekah politik".
Apa sih bedanya "sedekah politik" dengan sedekah murni? Sedekah politik jelas bentuk transaksionalnya antara pemberi dan yang diberi. Sementara sedekah murni tidak mempunyai unsur transaksional. Kalaupun pada akhirnya si pemberi sedekah mendapatkan popularitas sebagai tokoh yang dermawan, tetapi tidak terlihat menggunakan popularitasnya untuk tujuan politik oleh si penerima sedekah, maka sedekahnya tetap dapat diterima sebagai sedekah murni. Popularitas yang didapatkannya dianggap semata sebagai konsekuensi logis.
Untuk membedakan "sedekah politik" dan sedekah murni, juga dapat dilihat pada saat mana sedekah itu diberikan, setidaknya bisa dicermati dari momentum politik yang sedang berkembang, misalnya saat si pemberi sedekah sedang terlibat dalam sebuah persaingan untuk mendapatkan kursi di posisi politis, baik kursi jabatan eksekutif maupun legislatif.
Bagi pelaku politik yang sedang dalam posisi mampu mempengaruhi kebijakan, biasanya juga akan mudah terjebak seakan-akan "bersedekah" (berbuat kebajikan) melalui instrumen "kebijakan politis" populis. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang sedang berkuasa biasanya dengan sengaja "menyimpan" beberapa kebijakan "pamungkas" yang diyakini bisa mengatrol simpati publik untuk memberinya kesempatan kedua duduk di kursi kekuasaan. Padahal instrumen kebijakan itu sebenarnya bisa diluncurkan lebih dini, namun karena ini kebijakan publik dicampurbaurkan dengan urusan politik, maka jadilah "paket kebijakan politis" yang diluncurkan menurut momentum politik yang dianggap paling menguntungkan. Ini biasanya dilakukan oleh politisi yang sedang berkuasa di negara-negara berkembang. Mereka berasumsi bahwa rakyat belum cukup paham dengan manuver-manuver politik populis seperti itu dan berharap rakyat menilai itu sebagai bentuk prestasi atau kebajikan yang dilakukan sang politisi.
Nah, kembali ke soal "sedekah" politik. Seorang politisi yang (maaf) cukup "tajir" pernah mengkonfrontir saya dalam sebuah forum diskusi ketika saya membicarakan permasalahan ini.
"Jadi maksudnya kami tidak boleh memberikan sesuatu kepada konstituen kami. Wah, bagaimana kalau kami memang mampu dengan dana pribadi, bukan dari hasil peras sana peras sini untuk kami gunakan berkampanye? Apakah itu juga tidak boleh?. Setidak-tidaknya kalau saya tidak terpilih, itu akan menjadi sedekah saya!" Begitu pertanyaan dan pernyataan sang politisi dengan nada sedikit agak tinggi dan berapi-api. Pasalnya dia sudah terlanjur bagi-bagi sembako di berbagai tempat yang ia yakini sebagai kantong-kantong suara potensilnya.
Bila kebetulan memang sedang berkelebihan uang dan ingin bersedekah murni, maka tunggulah sampai kepentingan politis Anda berlalu. Tetapi kalau Anda punya uang yang memang sudah sejak awal dipersiapkan untuk kepentingan politik, maka hindarilah mengintervensi apa yang biasa disebut di dalam pembicaraan kebijakan publik sebagai "PRIVATE GOODS" atau barang kebutuhan pribadi. Apakah gerangan yang dimaksud sebagai private goods? Adalah barang atau fasilitas yang bila sudah menjadi milik seseorang akan mutlak menjadi privasi yang bersangkutan dalam hal pemanfaatannya. Ini berarti orang lain tidak lagi memiliki hak untuk memanfaatkan barang privasi itu kecuali yang bersangkutan bersedia membagi haknya secara sukarela. Untuk menjadi catatan, privasi bisa dalam skala individu maupun skala rumah tangga. Private goods yang tergolong individu adalah barang yang hanya mungkin dimanfaatkan satu orang, sementara private goods pada skala rumah tangga adalah yang bisa dimanfaatkan bersama oleh seluruh anggota keluarga di dalam rumah, tetapi tidak oleh rumah tangga lainnya, misalnya sembako, pemberian uang tunai dan sebagainya.
Begitu kita mengintervensi pemenuhan private goods individu atau rumah tangga, maka sejumlah individu atau rumahtangga lain yang tidak terjangkau intervensi (dan pasti tidak akan pernah terjangkau semua), meskipun kekayaan kita sekaliber Bill Gates atau Warren Buffet, akan melakukan "penilaian ulang" berkaitan dengan posisinya sebagai "excluder" atau pihak yang tidak mendapatkan hak atas private goods yang diterima orang lain. Ujung-ujungnya, kalau para "excluder" ini tahu bahwa private goods itu terdapat stempel partai politik atau figur tertentu, maka ketika ia gagal mendapatkan private goods yang sama, pada akhirnya akan menjadi "total excluder"bahkan pada tingkatan tertentu bisa menjadi "distractor" atau dalam bahasa sederhana disebut sebagai orang "ngeyel".
"Alah, kamu aja yang milih dia, kan kamu udah nikmati angpau-nya kan? Aku mau nyari yang lain yang bisa ngasih angpau yang lebih gede!" Ini contoh bahasa ngeyel dari orang beberapa minggu sebelumnya adalah fans berat lho! Lalu ditimpali oleh yang sudah menerima "angpau": "Eh, kalo kamu dapat yang lebih gede ajak-ajak ya?!" Nah, pusing kan?
Lalu bagaimana jalan keluarnya? Berhentilah melakukan manuver politik dengan mengintervensi public goods masyarakat. Lakukanlah sesuatu yang dapat dikatagorikan sebagai PUBLIC GOODS atau PUBLIC SERVICES kalau memang mau membelanjakan dana yang terlanjur ada di tangan. Apa misalnya? Adakanlah sesuatu atau lakukanlah sesuatu yang hasilnya tidak bisa di-klaim sebagai milik perseorangan atau rumah tangga. Katakanlah Anda membantu seperangkat kursi, meja, tenda yang bisa digunakan untuk kepentingan hajatan sukacita dan dukacita yang dikelola oleh organisasi warga setempat. Sewanya lebih murah dari tarif normal dan kalau untuk kepentingan pihak yang berduka cita paling tidak bisa digratiskan. Biayai tenaga pendamping yang bisa mendampingi organisasi warga untuk mengelola usaha bersama sehingga ketika misalnya, ini hanya misal, sebahagian kursi/meja itu ada yang rusak atau hilang, bisa digantikan dari penyisihan keuntungan. Kemana keuntungan usaha itu dialirkan nantinya?, setelah hak pengelola diberikan (ini juga bisa digilir), keuntungannya bisa dipakai untuk kepentingan publik lainnya, bisa yang sifatnya sosial atau ekonomis.
Saat menjelaskan ini, ada juga peserta diskusi yang nyeletuk: "Saya gak mau urusan yang ada keuntungannya seperti itu, pokoknya saya mau menyumbangkan dana saya, dan setelahnya habis perkara."
Nah, bagi politisi yang tidak mau pusing seperti ini, silahkan saja datangi tempat konstituen Anda dan ajak mereka kerja bakti memperbaiki semua jalan yang berlubang dan biaya untuk bahan2nya plus sedikit untuk makan minum rame-rame. Asal setelahnya jangan pasang foto Anda seukuran poster di tengah jalan disertai tulisan: "Eh, pengguna jalan, gue lho yang betulin jalan ini!" Gubrak!
Banyak hal sebenarnya yang bisa kita lakukan untuk menyalurkan "sedekah politik" secara cerdas dan bermartabat yang saya yakin setelah hura-hura kepentingan politik Anda berlalu, masih bisa menyisakan kepuasan batin bagi diri Anda, meskipun Anda tidak mendapatkan "kursi" jabatan politik. Kalaupun setelahnya Anda masih mau membina dan membiayai apa yang telah Anda rintis sebelumnya semasa Anda punya kepentingan politik, wah ini saya yakin sudah bisa digolongkan sebagai sedekah murni, meskipun saya tidak bisa menjaminnya karena urusan pahala dari setiap kebajikan, sekecil apapun itu adalah urusan hamba dengan Tuhan-nya, karena hanya Tuhan yang Maha Tahu apa yang ada di hati setiap hamba-Nya.
Sayapun tidak tahu apakah catatan saya ini bisa dikatagorikan sebagai sedekah pemikiran yang murni atau juga bagian dari "sedekah politik. Wallahualambissawab.
Jakarta 10 Februari 2009
Ben Baharuddin Nur
(Pengamat)
Hmm... Sebuah pertanyaan yang sangat substantif baru saja dilemparkan mba Risa di forum Pilpres Republik Facebook Nusantara (RFN). Saya yakin moderator bukan hanya sangat setuju dengan pertanyaan ini, bahkan seharusnya berterimakasih kepada mba Risa dan mba Stany telah membantu memberi bobot pada forum ini.
Hakekatnya kita semua terlahir sebagai pemimpin, sebagai yang terbaik dan paling ligitimate, setidaknya yang ter... dari sekian puluh bahkan ratus juta spermatozoa (maaf) yang bersaing untuk lahir sebagai manusia. Kalau kita sepakat bahwa kita semua adalah pemimpin (laki & perempuan), maka pertanyaannya, lalu siapa yang jadi pengikutnya? Jawabnya kita semua hakekatnya juga adalah pengikut (followers) pada saat yang bersamaan. Pengikut berarti orang yang tergantung. Bukankah saat nongol ke bumi ini nggak langsung bisa jalan apalagi ngoceh, kita bisa hidup seperti sekarang karena ada ibu, keluarga dan lain-lain yang ngasupi kita?
Nah, pemimpin dalam konteks pertanyaan mba Risa dan Stany tentu saja yang dimaksud adalah menjadi presiden, entah sekedar for fun di FB atau menjadi Presiden di dunia nyata. Semua orang pada hakekatnya bisa merasa mampu dan bisa merasa paling layak jadi pemimpin (subyektivitas ego - wajar). Tapi kembali lagi bahwa yang menentukan kualitas kepemimpinan seseorang adalah mereka yang berada pada posisi pengikut (pihak yang dipimpin).
Seseorang atau sekelompok orang menjadi pengikut pada dasarnya karena keterpengaruhan. Maka ketika seorang yang boleh jadi kita sebut pemimpin besar karena banyak pengikutnya, maka tanyalah orang-orang yang mengikutinya, mengapa mereka ikut. Maka cermatilah kemungkinan jawaban berikut:
"Habis, orangnya royal banget. Emang orangnya tajir. Bayangin setiap pengikut baru langsung dibeliin seragam, dicariin lapangan kerja dan sebagainya. Wah, pokoknya dahsyat deh" Maaf ini adalah model keterpengaruhan karena utilitas (Pemimpin seperti ini berpengaruh dan diikuti selagi masih mampu menciptakan ketergantungan langsung atas manfaat yang diberikan). Ini gak mungkin dilakukan oleh calon presiden FB, saya yakin. (Analisis: Pemimpin yang menggunakan pendekatan ini, termasuk di dalamnya bagi2 sembako tidak cukup langgeng).
"Lha siapa lagi yang layak kita jadikan pemimpin selain dia? Dia kan satu-satunya yang sesuku dengan kami, lagian masih ada hubungan keluarga dan keluarganya memang keturunan raja turun temurun." Maaf ini adalah model keterpengaruhan genetis dan primordial sektarian. (Analisis: Pemimpin yang hanya mengandalkan pendekatan ini biasanya cukup populer tapi lingkup keterpengaruhannya relatif sempit sebatas mereka yang sesuku, rumpun keluarga dan semacamnya).
"Saya gak tahu mengapa saya memilih dia. Pokoknya saya merasa apa yang dia sampaikan, meski belum terbukti, setidaknya sama dengan yang saya pikirkan. Lagi pula orangnya rendah hati banget, santun dan sangat sederhana, berani, tegas dan sabar. Saya tahu dia tidak punya cukup modal materi untuk bersaing dengan kandidat lain, apalagi melawan incumbent, tapi saya yakin banyak orang yang akan membantunya secara urunan. Janjinya gak muluk-muluk, dan saya kira disitulah daya tariknya dibanding kandidat lain yang mengumbar janji. Pokoknya dia adalah idola saya." Maaf ini adalah model keterpengaruhan berbasis ikatan emosional (heart), keyakinan (soul) dan intelektualitas (mind) plus karakter tokoh. Kalo mau liat contohnya, tanya aja para pengikut Jenderal Soedirman (kalo masih ada yang hidup). Mengapa mereka begitu setia mengawal beliau di atas tandu berjuang di tengah hutan belantara? Contoh anyar lainnya adalah Mahatma Gandhi.
Yang terakhir ini biasanya ikatannya akan lebih langgeng. Pengikutnya siap memikul beban bersama pemimpinnya, meski para pengikut ini cukup mendertita saat mendukung orang yang dipimpinnya tapi mereka terobsesi oleh mimpi dan keyakinan bahwa hari cerah akan datang di bawah kepemimpinan tokoh yang mereka dukung.
Nah, kembali ke pertanyaan mba Risa, apa yang membuat seseorang merasa mampu menjadi pemimpin? Jawabannya mungkin mereka merasa memiliki salah satu dari sumber kekuatan pengaruh yang saya sebutkan tadi. Karena baru merasa, maka itu pasti subyektif. Pada akhirnya perjalanan waktulah yang akan menjelaskan bahwa sesuatu yang sebelumnya subyektif adalah obyektif adanya.
Tapi kalau di FB banyak yang acung jari untuk jadi Calon Presiden Facebook Nusantara, masih sulit dianalisis motifnya. Soalnya konsekuensi moril dan materil mengacung tangan di sini relatif kecil, paling juga dicibirin oleh member lain atau kalo ada yang sebelnya kelewatan hanya nulis sebaris dua baris kata. Namanya juga forum dunia maya, apalagi sejak awal di declare: just for fun hehehe..
Nah, begitu kira-kira tanggapan saya mba Risa dan mba Stany serta rekan-rekan sekalian. Saya menjawab ini bukan untuk gagah-gagahan pamer pengetahuan, karena pengetahuan sayapun tak lebih besar dari sebiji debu di hamparan padang pasir pengetahuan dari Sang Khalik Yang Maha Mengetahui. Ini sekedar sharing, that's all ! Salam Persaudaraan.
Hakekatnya kita semua terlahir sebagai pemimpin, sebagai yang terbaik dan paling ligitimate, setidaknya yang ter... dari sekian puluh bahkan ratus juta spermatozoa (maaf) yang bersaing untuk lahir sebagai manusia. Kalau kita sepakat bahwa kita semua adalah pemimpin (laki & perempuan), maka pertanyaannya, lalu siapa yang jadi pengikutnya? Jawabnya kita semua hakekatnya juga adalah pengikut (followers) pada saat yang bersamaan. Pengikut berarti orang yang tergantung. Bukankah saat nongol ke bumi ini nggak langsung bisa jalan apalagi ngoceh, kita bisa hidup seperti sekarang karena ada ibu, keluarga dan lain-lain yang ngasupi kita?
Nah, pemimpin dalam konteks pertanyaan mba Risa dan Stany tentu saja yang dimaksud adalah menjadi presiden, entah sekedar for fun di FB atau menjadi Presiden di dunia nyata. Semua orang pada hakekatnya bisa merasa mampu dan bisa merasa paling layak jadi pemimpin (subyektivitas ego - wajar). Tapi kembali lagi bahwa yang menentukan kualitas kepemimpinan seseorang adalah mereka yang berada pada posisi pengikut (pihak yang dipimpin).
Seseorang atau sekelompok orang menjadi pengikut pada dasarnya karena keterpengaruhan. Maka ketika seorang yang boleh jadi kita sebut pemimpin besar karena banyak pengikutnya, maka tanyalah orang-orang yang mengikutinya, mengapa mereka ikut. Maka cermatilah kemungkinan jawaban berikut:
"Habis, orangnya royal banget. Emang orangnya tajir. Bayangin setiap pengikut baru langsung dibeliin seragam, dicariin lapangan kerja dan sebagainya. Wah, pokoknya dahsyat deh" Maaf ini adalah model keterpengaruhan karena utilitas (Pemimpin seperti ini berpengaruh dan diikuti selagi masih mampu menciptakan ketergantungan langsung atas manfaat yang diberikan). Ini gak mungkin dilakukan oleh calon presiden FB, saya yakin. (Analisis: Pemimpin yang menggunakan pendekatan ini, termasuk di dalamnya bagi2 sembako tidak cukup langgeng).
"Lha siapa lagi yang layak kita jadikan pemimpin selain dia? Dia kan satu-satunya yang sesuku dengan kami, lagian masih ada hubungan keluarga dan keluarganya memang keturunan raja turun temurun." Maaf ini adalah model keterpengaruhan genetis dan primordial sektarian. (Analisis: Pemimpin yang hanya mengandalkan pendekatan ini biasanya cukup populer tapi lingkup keterpengaruhannya relatif sempit sebatas mereka yang sesuku, rumpun keluarga dan semacamnya).
"Saya gak tahu mengapa saya memilih dia. Pokoknya saya merasa apa yang dia sampaikan, meski belum terbukti, setidaknya sama dengan yang saya pikirkan. Lagi pula orangnya rendah hati banget, santun dan sangat sederhana, berani, tegas dan sabar. Saya tahu dia tidak punya cukup modal materi untuk bersaing dengan kandidat lain, apalagi melawan incumbent, tapi saya yakin banyak orang yang akan membantunya secara urunan. Janjinya gak muluk-muluk, dan saya kira disitulah daya tariknya dibanding kandidat lain yang mengumbar janji. Pokoknya dia adalah idola saya." Maaf ini adalah model keterpengaruhan berbasis ikatan emosional (heart), keyakinan (soul) dan intelektualitas (mind) plus karakter tokoh. Kalo mau liat contohnya, tanya aja para pengikut Jenderal Soedirman (kalo masih ada yang hidup). Mengapa mereka begitu setia mengawal beliau di atas tandu berjuang di tengah hutan belantara? Contoh anyar lainnya adalah Mahatma Gandhi.
Yang terakhir ini biasanya ikatannya akan lebih langgeng. Pengikutnya siap memikul beban bersama pemimpinnya, meski para pengikut ini cukup mendertita saat mendukung orang yang dipimpinnya tapi mereka terobsesi oleh mimpi dan keyakinan bahwa hari cerah akan datang di bawah kepemimpinan tokoh yang mereka dukung.
Nah, kembali ke pertanyaan mba Risa, apa yang membuat seseorang merasa mampu menjadi pemimpin? Jawabannya mungkin mereka merasa memiliki salah satu dari sumber kekuatan pengaruh yang saya sebutkan tadi. Karena baru merasa, maka itu pasti subyektif. Pada akhirnya perjalanan waktulah yang akan menjelaskan bahwa sesuatu yang sebelumnya subyektif adalah obyektif adanya.
Tapi kalau di FB banyak yang acung jari untuk jadi Calon Presiden Facebook Nusantara, masih sulit dianalisis motifnya. Soalnya konsekuensi moril dan materil mengacung tangan di sini relatif kecil, paling juga dicibirin oleh member lain atau kalo ada yang sebelnya kelewatan hanya nulis sebaris dua baris kata. Namanya juga forum dunia maya, apalagi sejak awal di declare: just for fun hehehe..
Nah, begitu kira-kira tanggapan saya mba Risa dan mba Stany serta rekan-rekan sekalian. Saya menjawab ini bukan untuk gagah-gagahan pamer pengetahuan, karena pengetahuan sayapun tak lebih besar dari sebiji debu di hamparan padang pasir pengetahuan dari Sang Khalik Yang Maha Mengetahui. Ini sekedar sharing, that's all ! Salam Persaudaraan.
EVOLUSI FIGUR PEMIMPIN: ETIKA KARAKTER VS ETIKA KEPRIBADIAN
Ronald Reagen, dari artis menjadi Presiden AS - Arnold Schwaznegger akhirnya jadi Gubernur - Obama menang telak - Artis pada berlomba-lomba jadi politikus - dan banyak diantaranya yang berhasil. Fenomena apakah ini?
Saya mencoba berbagi jawaban melalui catatan ini, atas beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh peserta pelatihan kepemimpinan yang saya fasilitasi. Mudah-mudahan catatan ini juga bisa menjawab mengapa banyak kandidat calon presiden berani merogoh saku sampai puluhan milliar untuk membayar kampanye di stasiun televisi.
Beberapa puluh tahun lalu, DR. Stephen R. Covey melakukan sebuah penelitian untuk mencari tahu bentuk evolusi dari figur yang oleh para pengikutnya disebut sebagai pemimpin. Intinya, Covey ingin melihat apa yang melatari seseorang dipilih sebagai pemimpin. Penelitian kepustakaan ini dilakukan dalam rentang pemimimpin yang pernah ada dalam kurun waktu 200 tahun (1778 - 1978).
Dan Covey menemukan sebuah fenomena menarik, sekaligus membuktikan adanya evolusi kepemimpinan dan bahkan pergeseran drastis setelah tahun 1962. Mengapa tahun 1662? Tak lain karena tahun itu bisa disebut sebagai momentum revolusi komunikasi massa karena terjadinya "booming" televisi yang dapat ditemukan hampir di semua rumah tangga di AS. Setiap anggota rumah tangga akhirnya bisa melihat dan mengingat lebih banyak figur, terutama yang sering muncul di layar kaca.
Sebelum tahun 1962, masih terlihat jelas sebuah pola yang hampir sama ketika seseorang dielu-elukan sebagai pemimpin yakni: sederhana, berani, jujur, sabar, tahan banting, konsisten pada misi perjuangannya dan memiliki integritas tinggi. Popularitas mereka melegenda melalui pesan dari mulut kemulut dari orang-orang yang bersinggungan atau melihat langsung kehidupan sang tokoh. Di situ ada George Washington, Abraham Linclon dan sederetan nama melegenda lainnya hingga kini.
Setelah 1962, figur atau tokoh yang kemudian disebut oleh masyarakat sebagai figur "pemimpin" adalah mereka yang sering muncul di TV, melakukan orasi yang berapi-api, memperlihatkan kedekatannya kepada orang kecil saat disorot kamera, memberikan sumbangan untuk kegiatan sosial (kaya + dermawan) dan bintang film yang film tuanya diputar di TV ikut-ikutan memanen popularitas.
Tak heran bila Martin Luther King Jr. lebih populer dari Malcom X, gurunya, karena Martin Luther King lebih jago berorasi sehingga selalu menjadi "news maker" (pembuat berita). Ditambah lagi Martin Luther juga berani, sederhana, jujur dan konsisten pada misi perjuangannya.
Makanya tidak mengherankan bila kemudian Ronald Reagen, sang bintang film cowboy begitu mulus jalannya menuju kursi presiden dibanding politisi lainnya yang menjadi pesaingnya yang baru muncul di TV menjelang pemilihan presiden.
Bung Karno pun tak urung menjadi idola dunia kala itu karena liputan TV internasional yang meskipun belum bisa melakukan siaran langsung dan filmnya hitam putih, tapi bisa menayangkan orasi Sang Proklamator berulang-ulang, terutama mengekspos keberanian Presiden Pertama RI tersebut melawan kapitalisme Amerika yang banyak bersoal de negara-negara bekas jajahan Belanda dan para sekutunya.
Figur pemimpin yang saya sebut tadi kebetulan selain memiliki etika karakter (berani, konsisten pada misi perjuangannya, berintegritas, tabah, rendah hati dan jujur) juga memiliki etika kepribadian (jago orasi, berpenampilan menarik, kharismatik), sehingga bagaimanapun tetap melegenda.
Lalu bagaimana figur pemimpin dewasa ini? Mohon maaf saya katakan,kebanyakan populer bukan karena etika karakternya yang dibicarakan dari mulut ke mulut oleh pengikutnya melainkan karena sering muncul di media massa, terutama di layar televisi. Mereka dipopulerkan oleh media sehingga hal itu menjadi trend. Bintang film dan mantan bintang film dipastikan lebih memiliki kans (chance) atau peluang menjadi kepala daerah, anggota DPR dan jabatan politis lainnya dibanding seorang camat, guru, lurah, kepala desa yang jujur, pekerja keras, rendah hati, peduli kepada nasib warga melalui tindakan nyata, tapi jarang disorot kamera.
Obama, mantan pekerja LSM, pebisnis, senator illinois sangat menyadari fenomena pencitraan melalui media massa sehingga selain membangun etika karakternya dari bawah dengan berusaha jujur, tabah dari berbagai pelecehan, menghindari dendam, pembelajar dan lain-lain, juga tak lupa mengembangkan etika kepribadian dengan berlatih menjadi orator yang lugas, berpenampilan elegan, dekat dengan media dan merambah dukungan/ simpati melalui dunia maya termasuk di Facebook.
Memang, tak bisa dipungkiri sekarang ini kita hidup di era informasi/komunikasi. Dunia makin digital dan terhubung dengan cepat antar individu, wilayah bahkan lintas negara. Godaan menggunakan piranti informasi/komunikasi semakin merebak. Tak sedikit figur yang berani membayar Rumah Produksi dengan mahal untuk membuat iklan pencitraan yang "terlihat" menyentuh dan membayar mahal stasiun TV untuk menyiarkannya berulang-ulang. Ini sama sekali tidak salah, tuntutan zaman memang menghendaki itu.
Yang salah adalah ketika yang dijadikan tumpuan atau modal utama semata adalah instrumen-instrumen komunikasi/informasi itu saja untuk membangun pencitraan mengenai kepribadian sang figur. Etika karakter yang meliputi kerendahan hati, integritas (satu kata dengan perbuatan), ketabahan, konsistensi pada missi perjuangan yang dijanjikan, juga benar-benar mendapatkan perhatian untuk disadari dan dibentuk sejak dini.
Etika kepribadian memang akan mampu mengantar seorang figur pemimpin hingga ke puncak, tapi etika karakterlah yang akan membuat sang figur bertahan lebih lama di puncak dan bahkan setelahnya akan melegenda menembus batas zaman.
Seorang figur pemimpin memang butuh dana untuk mebiayai "pencitraan" dirinya agar mendapatkan simpati, tapi jangan karena itu lalu kemudian berusaha mengumpulkan dana dari sumber-sumber dan cara-cara yang bisa menyengsarakan rakyat. Bukankah yang diperjuangkan adalah kemaslahatan rakyat?
Ini sekelumit catatan saya buat rekan-rekan tercinta yang sedang berusaha meraih simpati rakyat agar diberikan amanah sebagai wakil rakyat, sebagai Bupat, Walikota, Gubernur, Presiden dan jabatan politis lainnya. Juga kepada rekan-rekan yang telah mendapatkan amanah, saatnya etika karakter Anda diuji, benar-benar emas atau hanya sepuhan.
Selamat berjuang, selamat berkarya, sukses menyertai kita semua.
Salam Persahabatan dunia maya - Ben Baharuddin Nur.
Saya mencoba berbagi jawaban melalui catatan ini, atas beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh peserta pelatihan kepemimpinan yang saya fasilitasi. Mudah-mudahan catatan ini juga bisa menjawab mengapa banyak kandidat calon presiden berani merogoh saku sampai puluhan milliar untuk membayar kampanye di stasiun televisi.
Beberapa puluh tahun lalu, DR. Stephen R. Covey melakukan sebuah penelitian untuk mencari tahu bentuk evolusi dari figur yang oleh para pengikutnya disebut sebagai pemimpin. Intinya, Covey ingin melihat apa yang melatari seseorang dipilih sebagai pemimpin. Penelitian kepustakaan ini dilakukan dalam rentang pemimimpin yang pernah ada dalam kurun waktu 200 tahun (1778 - 1978).
Dan Covey menemukan sebuah fenomena menarik, sekaligus membuktikan adanya evolusi kepemimpinan dan bahkan pergeseran drastis setelah tahun 1962. Mengapa tahun 1662? Tak lain karena tahun itu bisa disebut sebagai momentum revolusi komunikasi massa karena terjadinya "booming" televisi yang dapat ditemukan hampir di semua rumah tangga di AS. Setiap anggota rumah tangga akhirnya bisa melihat dan mengingat lebih banyak figur, terutama yang sering muncul di layar kaca.
Sebelum tahun 1962, masih terlihat jelas sebuah pola yang hampir sama ketika seseorang dielu-elukan sebagai pemimpin yakni: sederhana, berani, jujur, sabar, tahan banting, konsisten pada misi perjuangannya dan memiliki integritas tinggi. Popularitas mereka melegenda melalui pesan dari mulut kemulut dari orang-orang yang bersinggungan atau melihat langsung kehidupan sang tokoh. Di situ ada George Washington, Abraham Linclon dan sederetan nama melegenda lainnya hingga kini.
Setelah 1962, figur atau tokoh yang kemudian disebut oleh masyarakat sebagai figur "pemimpin" adalah mereka yang sering muncul di TV, melakukan orasi yang berapi-api, memperlihatkan kedekatannya kepada orang kecil saat disorot kamera, memberikan sumbangan untuk kegiatan sosial (kaya + dermawan) dan bintang film yang film tuanya diputar di TV ikut-ikutan memanen popularitas.
Tak heran bila Martin Luther King Jr. lebih populer dari Malcom X, gurunya, karena Martin Luther King lebih jago berorasi sehingga selalu menjadi "news maker" (pembuat berita). Ditambah lagi Martin Luther juga berani, sederhana, jujur dan konsisten pada misi perjuangannya.
Makanya tidak mengherankan bila kemudian Ronald Reagen, sang bintang film cowboy begitu mulus jalannya menuju kursi presiden dibanding politisi lainnya yang menjadi pesaingnya yang baru muncul di TV menjelang pemilihan presiden.
Bung Karno pun tak urung menjadi idola dunia kala itu karena liputan TV internasional yang meskipun belum bisa melakukan siaran langsung dan filmnya hitam putih, tapi bisa menayangkan orasi Sang Proklamator berulang-ulang, terutama mengekspos keberanian Presiden Pertama RI tersebut melawan kapitalisme Amerika yang banyak bersoal de negara-negara bekas jajahan Belanda dan para sekutunya.
Figur pemimpin yang saya sebut tadi kebetulan selain memiliki etika karakter (berani, konsisten pada misi perjuangannya, berintegritas, tabah, rendah hati dan jujur) juga memiliki etika kepribadian (jago orasi, berpenampilan menarik, kharismatik), sehingga bagaimanapun tetap melegenda.
Lalu bagaimana figur pemimpin dewasa ini? Mohon maaf saya katakan,kebanyakan populer bukan karena etika karakternya yang dibicarakan dari mulut ke mulut oleh pengikutnya melainkan karena sering muncul di media massa, terutama di layar televisi. Mereka dipopulerkan oleh media sehingga hal itu menjadi trend. Bintang film dan mantan bintang film dipastikan lebih memiliki kans (chance) atau peluang menjadi kepala daerah, anggota DPR dan jabatan politis lainnya dibanding seorang camat, guru, lurah, kepala desa yang jujur, pekerja keras, rendah hati, peduli kepada nasib warga melalui tindakan nyata, tapi jarang disorot kamera.
Obama, mantan pekerja LSM, pebisnis, senator illinois sangat menyadari fenomena pencitraan melalui media massa sehingga selain membangun etika karakternya dari bawah dengan berusaha jujur, tabah dari berbagai pelecehan, menghindari dendam, pembelajar dan lain-lain, juga tak lupa mengembangkan etika kepribadian dengan berlatih menjadi orator yang lugas, berpenampilan elegan, dekat dengan media dan merambah dukungan/ simpati melalui dunia maya termasuk di Facebook.
Memang, tak bisa dipungkiri sekarang ini kita hidup di era informasi/komunikasi. Dunia makin digital dan terhubung dengan cepat antar individu, wilayah bahkan lintas negara. Godaan menggunakan piranti informasi/komunikasi semakin merebak. Tak sedikit figur yang berani membayar Rumah Produksi dengan mahal untuk membuat iklan pencitraan yang "terlihat" menyentuh dan membayar mahal stasiun TV untuk menyiarkannya berulang-ulang. Ini sama sekali tidak salah, tuntutan zaman memang menghendaki itu.
Yang salah adalah ketika yang dijadikan tumpuan atau modal utama semata adalah instrumen-instrumen komunikasi/informasi itu saja untuk membangun pencitraan mengenai kepribadian sang figur. Etika karakter yang meliputi kerendahan hati, integritas (satu kata dengan perbuatan), ketabahan, konsistensi pada missi perjuangan yang dijanjikan, juga benar-benar mendapatkan perhatian untuk disadari dan dibentuk sejak dini.
Etika kepribadian memang akan mampu mengantar seorang figur pemimpin hingga ke puncak, tapi etika karakterlah yang akan membuat sang figur bertahan lebih lama di puncak dan bahkan setelahnya akan melegenda menembus batas zaman.
Seorang figur pemimpin memang butuh dana untuk mebiayai "pencitraan" dirinya agar mendapatkan simpati, tapi jangan karena itu lalu kemudian berusaha mengumpulkan dana dari sumber-sumber dan cara-cara yang bisa menyengsarakan rakyat. Bukankah yang diperjuangkan adalah kemaslahatan rakyat?
Ini sekelumit catatan saya buat rekan-rekan tercinta yang sedang berusaha meraih simpati rakyat agar diberikan amanah sebagai wakil rakyat, sebagai Bupat, Walikota, Gubernur, Presiden dan jabatan politis lainnya. Juga kepada rekan-rekan yang telah mendapatkan amanah, saatnya etika karakter Anda diuji, benar-benar emas atau hanya sepuhan.
Selamat berjuang, selamat berkarya, sukses menyertai kita semua.
Salam Persahabatan dunia maya - Ben Baharuddin Nur.
DEMOKRASI VS PEMAKSAAN KEHENDAK
H Abdul Aziz Angkat, Ketua DPRD Sumatera Utara telah berpulang ke Haribaan Ilahi. Ajal manusia memang di tangan Tuhan, tapi penyebabnya setidaknya bisa menjadi perenungan bagi kita yang masih diberi kesempatan menghirup udara kehidupan di bumi Tuhan ini.
Sepanjang akhir pekan ini, saat stasiun televisi negeri ini menyiarkan berita, perasaan miris bergolak di dalam dada saya. Miris melihat seorang anak bangsa yang kebetulan mendapat amanah sebagai Ketu DPRD Sumatera Utara, di tengah masyarakatnya, di dalam kantornya mendapat perlakuan yang tidak manusiawi "atas nama", sekali lagi "atas nama" DEMOKRASI.
Sekelompok orang menuntut diagendakannya pembahasan pembentukan Propinsi Tapanuli, sementara konon (maaf saya juga belum tahu persis kebenarannya), anggota DPRD yang sedang bersidang di dalam gedung itu tidak mengagendakannya - tentu saja masing-masing pihak memiliki pertimbangan mengapa sesuatu dikatagorikan "harus" dan lainnya berpendapat "tidak harus".
Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dan sangat manusiawi. Untuk itulah dikembangkan pendefinisian kata DEMOKRASI, tak lain untuk mengakomodasi perbedaan pendapat secara lebih berkeadilan dan menghindarkan pihak yang kuat (dominan) melakukan pemaksaan kehendak dan pendapat kepada pihak yang lemah (minoritas).
Saya tiba-tiba teringat cerita guru agama saya tentang proses penyelesaian perbedaan pendapat antara Tuhan dan para malaikat ketika Tuhan berkehendak menciptakan manusia ke bumi ini. Sebahagian malaikat berpendapat bahwa belum mendesak untuk menciptakan manusia ke bumi ini, apalagi ada indikasi bahwa mahluk baru ini kemungkinan hanya akan membawa kerusakan dan saling berbunuhan.
Tuhan (maaf tak ada niat mempersonifikasi), menurut guru agama saya, bersabda kepada para malaikat yang tidak setuju tersebut bahwa diri-Nya lebih tahu mengenai apa yang akan dilakukan-Nya. Lalu para malaikat menerima, realitasnya Tuhan memang Maha Tahu dan Maha Kuasa. Dimintai pendapat saja oleh Yang Maha Mengetahui, sudah merupakan satu kehormatan tentunya bagi para malaikat itu.
Saya meng-imani kisah ini sebagai suatu bentuk pembelajaran dalam mengelola kekuasaan dan memberikan penghargaan kepada pihak lain. Karena sebagai pihak Yang Maha Kuasa, bisa saja Tuhan langsung menciptakan manusia tanpa harus membuang waktu meminta pendapat para malaikat yang dapat dipastikan akan taat pada perintah Allah.
Ketika Adam kemudian diciptakan, maka perbedaan pendapat lagi-lagi timbul. Malaikat yang sedari awal sudah menerima langsung memberikan penghormatan kepada Adam. Tetapi sekelompok "malaikat" lainnya menolak, bukan lagi soal urgen tidaknya pencptaan Adam, melainkan pada aspek kepantasan. Kata sang "malaikat pembangkang" yang kemudian dinamai iblis, tidak pantas mereka yang terbuat dari "api" tunduk pada manusia yang terbuat dari "tanah".
Tuhan Yang Maha Kuasa bisa saja menggunakan "kekerasan" untuk membuat iblis tunduk dan menerima keputusan-Nya tanpa syarat. Tetapi di sinilah letak pembelajarannya. Tuhan tetap "menghargai" pendapat kelompok "pembangkang", dan hanya mengingatkan resiko yang kemungkinan dipikul dari sikap membangkang itu, yakni akan menjadi penghuni neraka.
Apakah urusannya selesai? Tidak sesederhana itu. Iblis menerima konsekuensi dari pembangkangannya namun meminta kompensasi untuk dapat hidup sepanjang jaman dan kebebasan untuk tetap bisa mempengaruhi anak cucu Adam nantinya untuk bersama-sama menjadi penghuni neraka. Tuhan Yang Maha Kuasa bisa saja menolak permintaan kompensasi itu pada kedudukan-Nya sebagai yang Maha Kuasa. Siapapun pasti sepakat dengan logika saya ini.
Faktanya, Tuhan menyetujui "proposal gila" dari para iblis itu dan hanya mengingatkan bahwa Tuhan akan memperlengkapi Adam dan anak cucunya dengan instrumen akal, hati dan jiwa agar nantinya bisa membedakan mana yang merupakan "ajakan" atau godaan iblis dan mana yang merupakan jalan menuju kemuliaan.
Begitulah yang saya ingat dari guru agama saya dulu. Sebuah kisah yang juga terurai jelas di dalam Al Qur'an, yang setidaknya menyiratkan pembelajaran penting tentang makna DEMOKRASI dan sikap DEMOKRATIS meskipun terbuka peluang yang maha luas untuk bersikap OTOKRATIS.
Ketika seseorang yang beriman, meyakini eksistensi Allah dengan segala sifat-sifat-Nya tidak mampu menerima perbedaan pendapat secara elegan dan memberikan ruang untuk eksisnya "oposisi" sebagaimana hak "oposisi" yang diberikan Tuhan kepada iblis, maka sesungguhnya kita gagal menerima pembelajaran yang luar biasa yang justru dari kisah penciptaan diri kita sebagai manusia.
Penggunaan kekerasan di dalam menyikapi perbedaan pendapat sebenarnya manifestasi dari bentuk ketaklukan manusia pada "kubu iblis" daripada mempertahankan kemuliannya sebagai manusia. Menyikapi perbedaan pendapat dengan memberikan ruang dan sikap yang adil bagi setiap bentuk perbedaan pendapat adalah manifestasi dari penerimaan diri kita apa adanya sebagai manusia yang sebahagian sisinya adalah "malaikat" dan sebahagian adalah sisi "iblis".
Demokrasi bagi saya bukan sekedar "suara terbanyak" dengan mekanisme jalan pintas dalam bentuk "voting". Demokrasi bagi saya adalah kemampuan manusia-manusia yang bermartabat mulia untuk menerima perbedaan pendapat dan tetap mengayomi orang yang berbeda pendapat secara berkeadilan dan tetap menjaga martabat serta kehormatannya, karena bagaimanapun berbeda pendapat adalah pilihan dengan konsekuensi logis yang sudah diperhitungkan sampai pada batas yang bisa ditoleransi.
Semoga kepergian Bapak H. Abdul Aziz Angkat sebagai "martir" dari sebuah bentuk kehidupan berdemokrasi yang sedang dibangun di negeri ini, tidak menyisakan balas dendam melainkan sebuah perenungan bagi kita semua untuk lebih menata sikap dan perilaku 'BERDEMOKRASI" bagi kemajuan dan kemaslahan bangsa ini.
Mudah-mudahan dengan pembejalaran yang mahal ini yang telah mengantar bapak H. Abdul Aziz Angkat meninggalkan "arena" lebih awal tidak menjadi peristiwa yang sia-sia, karena hanya dengan itu tragedi ini menjadi amal jariyah bagi Almarhum, meninggalkan sesuatu yang bermanfaat sebagai pembelajaran bagi kita semua.
Selamat jalan Bapak H. Abdul Aziz Angkat, semoga Tuhan Yang Maha Esa menerima beliau dengan segala kelapangan di sisi-Nya. Amin.
Jakarta, 9 Februari 2009
Ben Baharuddin Nur
(Pengamat)
Sepanjang akhir pekan ini, saat stasiun televisi negeri ini menyiarkan berita, perasaan miris bergolak di dalam dada saya. Miris melihat seorang anak bangsa yang kebetulan mendapat amanah sebagai Ketu DPRD Sumatera Utara, di tengah masyarakatnya, di dalam kantornya mendapat perlakuan yang tidak manusiawi "atas nama", sekali lagi "atas nama" DEMOKRASI.
Sekelompok orang menuntut diagendakannya pembahasan pembentukan Propinsi Tapanuli, sementara konon (maaf saya juga belum tahu persis kebenarannya), anggota DPRD yang sedang bersidang di dalam gedung itu tidak mengagendakannya - tentu saja masing-masing pihak memiliki pertimbangan mengapa sesuatu dikatagorikan "harus" dan lainnya berpendapat "tidak harus".
Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dan sangat manusiawi. Untuk itulah dikembangkan pendefinisian kata DEMOKRASI, tak lain untuk mengakomodasi perbedaan pendapat secara lebih berkeadilan dan menghindarkan pihak yang kuat (dominan) melakukan pemaksaan kehendak dan pendapat kepada pihak yang lemah (minoritas).
Saya tiba-tiba teringat cerita guru agama saya tentang proses penyelesaian perbedaan pendapat antara Tuhan dan para malaikat ketika Tuhan berkehendak menciptakan manusia ke bumi ini. Sebahagian malaikat berpendapat bahwa belum mendesak untuk menciptakan manusia ke bumi ini, apalagi ada indikasi bahwa mahluk baru ini kemungkinan hanya akan membawa kerusakan dan saling berbunuhan.
Tuhan (maaf tak ada niat mempersonifikasi), menurut guru agama saya, bersabda kepada para malaikat yang tidak setuju tersebut bahwa diri-Nya lebih tahu mengenai apa yang akan dilakukan-Nya. Lalu para malaikat menerima, realitasnya Tuhan memang Maha Tahu dan Maha Kuasa. Dimintai pendapat saja oleh Yang Maha Mengetahui, sudah merupakan satu kehormatan tentunya bagi para malaikat itu.
Saya meng-imani kisah ini sebagai suatu bentuk pembelajaran dalam mengelola kekuasaan dan memberikan penghargaan kepada pihak lain. Karena sebagai pihak Yang Maha Kuasa, bisa saja Tuhan langsung menciptakan manusia tanpa harus membuang waktu meminta pendapat para malaikat yang dapat dipastikan akan taat pada perintah Allah.
Ketika Adam kemudian diciptakan, maka perbedaan pendapat lagi-lagi timbul. Malaikat yang sedari awal sudah menerima langsung memberikan penghormatan kepada Adam. Tetapi sekelompok "malaikat" lainnya menolak, bukan lagi soal urgen tidaknya pencptaan Adam, melainkan pada aspek kepantasan. Kata sang "malaikat pembangkang" yang kemudian dinamai iblis, tidak pantas mereka yang terbuat dari "api" tunduk pada manusia yang terbuat dari "tanah".
Tuhan Yang Maha Kuasa bisa saja menggunakan "kekerasan" untuk membuat iblis tunduk dan menerima keputusan-Nya tanpa syarat. Tetapi di sinilah letak pembelajarannya. Tuhan tetap "menghargai" pendapat kelompok "pembangkang", dan hanya mengingatkan resiko yang kemungkinan dipikul dari sikap membangkang itu, yakni akan menjadi penghuni neraka.
Apakah urusannya selesai? Tidak sesederhana itu. Iblis menerima konsekuensi dari pembangkangannya namun meminta kompensasi untuk dapat hidup sepanjang jaman dan kebebasan untuk tetap bisa mempengaruhi anak cucu Adam nantinya untuk bersama-sama menjadi penghuni neraka. Tuhan Yang Maha Kuasa bisa saja menolak permintaan kompensasi itu pada kedudukan-Nya sebagai yang Maha Kuasa. Siapapun pasti sepakat dengan logika saya ini.
Faktanya, Tuhan menyetujui "proposal gila" dari para iblis itu dan hanya mengingatkan bahwa Tuhan akan memperlengkapi Adam dan anak cucunya dengan instrumen akal, hati dan jiwa agar nantinya bisa membedakan mana yang merupakan "ajakan" atau godaan iblis dan mana yang merupakan jalan menuju kemuliaan.
Begitulah yang saya ingat dari guru agama saya dulu. Sebuah kisah yang juga terurai jelas di dalam Al Qur'an, yang setidaknya menyiratkan pembelajaran penting tentang makna DEMOKRASI dan sikap DEMOKRATIS meskipun terbuka peluang yang maha luas untuk bersikap OTOKRATIS.
Ketika seseorang yang beriman, meyakini eksistensi Allah dengan segala sifat-sifat-Nya tidak mampu menerima perbedaan pendapat secara elegan dan memberikan ruang untuk eksisnya "oposisi" sebagaimana hak "oposisi" yang diberikan Tuhan kepada iblis, maka sesungguhnya kita gagal menerima pembelajaran yang luar biasa yang justru dari kisah penciptaan diri kita sebagai manusia.
Penggunaan kekerasan di dalam menyikapi perbedaan pendapat sebenarnya manifestasi dari bentuk ketaklukan manusia pada "kubu iblis" daripada mempertahankan kemuliannya sebagai manusia. Menyikapi perbedaan pendapat dengan memberikan ruang dan sikap yang adil bagi setiap bentuk perbedaan pendapat adalah manifestasi dari penerimaan diri kita apa adanya sebagai manusia yang sebahagian sisinya adalah "malaikat" dan sebahagian adalah sisi "iblis".
Demokrasi bagi saya bukan sekedar "suara terbanyak" dengan mekanisme jalan pintas dalam bentuk "voting". Demokrasi bagi saya adalah kemampuan manusia-manusia yang bermartabat mulia untuk menerima perbedaan pendapat dan tetap mengayomi orang yang berbeda pendapat secara berkeadilan dan tetap menjaga martabat serta kehormatannya, karena bagaimanapun berbeda pendapat adalah pilihan dengan konsekuensi logis yang sudah diperhitungkan sampai pada batas yang bisa ditoleransi.
Semoga kepergian Bapak H. Abdul Aziz Angkat sebagai "martir" dari sebuah bentuk kehidupan berdemokrasi yang sedang dibangun di negeri ini, tidak menyisakan balas dendam melainkan sebuah perenungan bagi kita semua untuk lebih menata sikap dan perilaku 'BERDEMOKRASI" bagi kemajuan dan kemaslahan bangsa ini.
Mudah-mudahan dengan pembejalaran yang mahal ini yang telah mengantar bapak H. Abdul Aziz Angkat meninggalkan "arena" lebih awal tidak menjadi peristiwa yang sia-sia, karena hanya dengan itu tragedi ini menjadi amal jariyah bagi Almarhum, meninggalkan sesuatu yang bermanfaat sebagai pembelajaran bagi kita semua.
Selamat jalan Bapak H. Abdul Aziz Angkat, semoga Tuhan Yang Maha Esa menerima beliau dengan segala kelapangan di sisi-Nya. Amin.
Jakarta, 9 Februari 2009
Ben Baharuddin Nur
(Pengamat)
KEPEMIMPINAN DAN MEKANISME SUKSESI
Suatu hari dalam sebuah perjalanan memantau pelaksanaan program pengembangan Kawasan Terpadu (PKT) di beberapa desa di Sulawesi Selatan, saya sempat mampir sholat Maghrib di sebuah mesjid kecil di pinggir jalan Propinsi.
Jemaahnya tidak banyak, beberapa mobil "musafir" parkir di halaman mesjid kecil itu. Saya tidak kenal imamnya, karena saya pendatang dan sedikit terlambat, hanya bajunya yang sepintas kulihat, motif garis vertikal.
Ketika sampai pada bacaan setelah Al Fatihah, kalau tidak salah ingat sang Imam membaca surah Al Baqarah, dan maaf, beberapa kali terjadi kesalahan bacaan yang mendapat teguran santun dari para makmum dengan ucapan "subhanallah", sambil yang tepat di belakangnya bersuara lebih "keras" dari makmum lainnya untuk membantu meluruskan bacaan sang Imam.
Kali ketiga terjadi kesalahan bacaan, bahkan sepertinya sang Imam agak grogi sehingga lupa sambungan bacaannya meski sudah dipandu oleh pengikut (ma'mun) yang ada di belakangnya. Selanjutnya yang terjadi adalah pembelajaran yang begitu indah.
Sang makmum mengambil alih kepemimpinan dan melanjutkan bacaan dan memimpin sholat sampai selesai. Kemana sang Imam sebelumnya pergi? Tetap di baris (shaf) depan? Kalau dia disitu pasti akan mengganggu sang Iman pengganti dan pengikut sholat lainnya.
Sang mantan Imam rupanya keluar dari pintu sampng dekat mimbar (ini rupanya emergency exit) dan pergi berwudhu lagi lalu mengambil posisi sebagai makmum (pengikut) di posisi paling akhir. Saya mengetahui itu karena setelah sholat saya masih sempat mengenali baju sang "mantan" imamya yang bermotif garis-garis dan dia masih melanjutkan satu rakaat sholatnya yang tertinggal.
Saya masih sempat menungguinya selesai berdoa dan menyalaminya sambil menanyakan beberapa hal berkaitan dengan kejadian tadi. Rupanya dia juga "musafir" yang lewat dan tadi saat sholat belum dimulai dia katanya didaulat menjadi Imam. Ia awalnya memang sudah ragu karena ia mengakui hafalan Al Qur'annya belum terlalu baik. Tapi karena melihat usianya yang relatif tampak lebih tua dengan uban yang sudah kelihatan di sisi kiri kanan kepalanya, ia akhirnya menerima amanah itu.
Mungkin itulah sebabnya di dalam memilih Imam sholat, disyaratkan adalah yang paling baik bacaan atau hafalannya diantara para jamaah - dan saya juga mengingat dari guru agama saya bahwa yang sebaiknya berdiri tepat di belakang Imam adalah mereka yang bisa bertindak sebagai "penuntun" dan "pengoreksi" bila sewaktu-waktu Imam lupa atau salah dalam bacaannya.
Di sini tidak dikatakan bahwa yang terpenting untuk diangkat menjadi imam adalah yang paling baik akhlaknya, paling jujur, paling berintegritas dan sebagainya yang biasa kita katagorikan sebagai ber-KARAKTER. Karena memang sulit menilai itu dalam sekejap apalagi di tengah kerumunan jamaah, terutama bila kebetulan kebanyakan musafir yang jarang atau mungkin baru pertama kali bertemu.
Kemampuan membaca dan menghafal bacaan dengan tajwid yang baik adalah KOMPETENSI utama bagi seorang Imam, termasuk dalam kondisi yang urgen sekalipun. Kemudian setelahnya, agar bisa tetap mendapat amanah sebagai Imam, maka KARAKTER menjadi persyaratan mutlak.
Saya ingin fokus membicarakan mengenai mekanisme suksesi seorang Imam sholat yang mudah-mudahan tidak sering-sering terjadi di tengah perjalanan sholat, karena bagaimanapun sedikit agak mengganggu kekhusyuan sholat. Yang pasti setelah kejadian suksesi di tengah perjalanan sholat seperti yang saya lihat di mesjid kecil itu, saya melihat jamaah lain tak satupun datang "menghujat" mantan Imam yang berbuat "kesalahan" tadi. Hampir semua jamaah yang sempat mengenalinya sebagai "mantan" Imam yang "dilengserkan", datang menyalami dengan perkataan-perkataan yang santun dan menyemangati.
"Yah, tidak apa-apa, manusia memang tempat segala kesalahan dan kekhilafan," begitu kata-kata penyemangat yang sempat terdengar di telinga saya. Termasuk yang menggantikannya menjadi Imam mendatanginya dengan didahului permintaan maaf, terimakasih dan sepenggal kalimat penyemangat. Indah sekali.
Saya jadi kebayang andaikata pola pemilihan pemimpin sholat (imam) dan pola suksesi bila terjadi keadaan darurat maupun keadaan normal diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka janji Tuhan bahwa: "Sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar", akan benar-benar kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam memilih Presiden nantinya, tentu yang kita perlu dukung adalah kandidat yang memiliki KOMPETENSI manajemen pemerintahan, bernegara dan bermasyarakat yang mumpuni. Bagaimana melihat hal ini? tentu saja dari "track record" sepanjang perjalanan hidup sang kandidat di berbagai kesempatan lain saat mendapat "amanah" sebagai pemimpin, apakah pemimpin organisasi politik, profesi, lembaga negara, lembaga bisnis, LSM dan sebagainya.
Karena kita semua bukan "muhajirin" atau pendatang di negeri kita ini, tentu kitapun memiliki kemewahan untuk menilai KARAKTER figur yang akan kita dukung sebagai "Imam" di dalam memimpin negara ini, setidaknya dalam lima tahun ke depan. Saya yakin kita bisa melakukan penilaian ini secara arif bijaksana karena figur "imam" yang nantinya akan diusulkan saya yakin bukan "tarzan" dari rimba raya yang tidak kita kenal siapa ayahnya, ibunya, kelakuannya dan tindak tanduknya selama ini.
Bila nantinya terpilih salah seorang diantara kita yang menjadi "Imam" negara ini, maka siapapun yang usulannya tidak terakomodasi sebaiknya berbesar hati untuk menjadi pengikut (makmum) yang santun. Ini terutama penting dihayati oleh saudara-saudari saya yang beragama Islam karena sepanjang hidup saya belum pernah melihat ada demo di depan mesjid yang memprotes penunjukan Imam mesjid. Kalau demo memprotes panitia pembangunan mesjid, pernah sih beberapa kali, tapi tidak sampai anarkis dan tidak dilakukan saat sholat sedang berlangsung, apalagi pakai pengeras suara "TOA" yang memekakkan telinga.
Bagi setiap pendapat yang berbeda, tetap tersedia mekanisme menjadi "oposisi". Kalau urusan mesjid barangkali bisa diselesaikan dengan membangun mesjid sendiri sambil mengumpulkan jemaah yang sepaham (Inipun sudah tergolong tidak bijak). Tapi kalau urusan oposisi dalam hal bernegara, rasanya tidak bijak untuk membuat "negara baru".
Apapun bentuk alternatif "oposisi" yang dipilih, jangan sampai menjadi oposisi yang destruktif, karena yakinlah bila Anda atau keturunan Anda masih berkeinginan menjadi Imam di kemudian hari, salah satu yang dinilai oleh rakyat adalah KARAKTER yang Anda tunjukkan saat berada pada posisi sebagai "OPOSISI".
Jadi mari kita sambut suksesi kepemimpinan di negeri ini (baik walikota, Bupati, Gubernur maupun Presiden) dengan terutama mempertimbangkan aspek KOMPETENSI dan KARAKTER calon yang akan diusulkan. Karena bagaimanapun tanggungjawab akan dipikul bersama antara yang dipilih dan yang memilihnya.
Selamat berkompetisi secara sehat dan santun agar kita semua yang hidup di era ini tidak menjadi contoh buruk bagi generasi berikutnya. Salam Persaudaraan Dunia Maya.
Jakarta 09 Februari 2009
Ben Baharuddin Nur
(pengamat).
Jemaahnya tidak banyak, beberapa mobil "musafir" parkir di halaman mesjid kecil itu. Saya tidak kenal imamnya, karena saya pendatang dan sedikit terlambat, hanya bajunya yang sepintas kulihat, motif garis vertikal.
Ketika sampai pada bacaan setelah Al Fatihah, kalau tidak salah ingat sang Imam membaca surah Al Baqarah, dan maaf, beberapa kali terjadi kesalahan bacaan yang mendapat teguran santun dari para makmum dengan ucapan "subhanallah", sambil yang tepat di belakangnya bersuara lebih "keras" dari makmum lainnya untuk membantu meluruskan bacaan sang Imam.
Kali ketiga terjadi kesalahan bacaan, bahkan sepertinya sang Imam agak grogi sehingga lupa sambungan bacaannya meski sudah dipandu oleh pengikut (ma'mun) yang ada di belakangnya. Selanjutnya yang terjadi adalah pembelajaran yang begitu indah.
Sang makmum mengambil alih kepemimpinan dan melanjutkan bacaan dan memimpin sholat sampai selesai. Kemana sang Imam sebelumnya pergi? Tetap di baris (shaf) depan? Kalau dia disitu pasti akan mengganggu sang Iman pengganti dan pengikut sholat lainnya.
Sang mantan Imam rupanya keluar dari pintu sampng dekat mimbar (ini rupanya emergency exit) dan pergi berwudhu lagi lalu mengambil posisi sebagai makmum (pengikut) di posisi paling akhir. Saya mengetahui itu karena setelah sholat saya masih sempat mengenali baju sang "mantan" imamya yang bermotif garis-garis dan dia masih melanjutkan satu rakaat sholatnya yang tertinggal.
Saya masih sempat menungguinya selesai berdoa dan menyalaminya sambil menanyakan beberapa hal berkaitan dengan kejadian tadi. Rupanya dia juga "musafir" yang lewat dan tadi saat sholat belum dimulai dia katanya didaulat menjadi Imam. Ia awalnya memang sudah ragu karena ia mengakui hafalan Al Qur'annya belum terlalu baik. Tapi karena melihat usianya yang relatif tampak lebih tua dengan uban yang sudah kelihatan di sisi kiri kanan kepalanya, ia akhirnya menerima amanah itu.
Mungkin itulah sebabnya di dalam memilih Imam sholat, disyaratkan adalah yang paling baik bacaan atau hafalannya diantara para jamaah - dan saya juga mengingat dari guru agama saya bahwa yang sebaiknya berdiri tepat di belakang Imam adalah mereka yang bisa bertindak sebagai "penuntun" dan "pengoreksi" bila sewaktu-waktu Imam lupa atau salah dalam bacaannya.
Di sini tidak dikatakan bahwa yang terpenting untuk diangkat menjadi imam adalah yang paling baik akhlaknya, paling jujur, paling berintegritas dan sebagainya yang biasa kita katagorikan sebagai ber-KARAKTER. Karena memang sulit menilai itu dalam sekejap apalagi di tengah kerumunan jamaah, terutama bila kebetulan kebanyakan musafir yang jarang atau mungkin baru pertama kali bertemu.
Kemampuan membaca dan menghafal bacaan dengan tajwid yang baik adalah KOMPETENSI utama bagi seorang Imam, termasuk dalam kondisi yang urgen sekalipun. Kemudian setelahnya, agar bisa tetap mendapat amanah sebagai Imam, maka KARAKTER menjadi persyaratan mutlak.
Saya ingin fokus membicarakan mengenai mekanisme suksesi seorang Imam sholat yang mudah-mudahan tidak sering-sering terjadi di tengah perjalanan sholat, karena bagaimanapun sedikit agak mengganggu kekhusyuan sholat. Yang pasti setelah kejadian suksesi di tengah perjalanan sholat seperti yang saya lihat di mesjid kecil itu, saya melihat jamaah lain tak satupun datang "menghujat" mantan Imam yang berbuat "kesalahan" tadi. Hampir semua jamaah yang sempat mengenalinya sebagai "mantan" Imam yang "dilengserkan", datang menyalami dengan perkataan-perkataan yang santun dan menyemangati.
"Yah, tidak apa-apa, manusia memang tempat segala kesalahan dan kekhilafan," begitu kata-kata penyemangat yang sempat terdengar di telinga saya. Termasuk yang menggantikannya menjadi Imam mendatanginya dengan didahului permintaan maaf, terimakasih dan sepenggal kalimat penyemangat. Indah sekali.
Saya jadi kebayang andaikata pola pemilihan pemimpin sholat (imam) dan pola suksesi bila terjadi keadaan darurat maupun keadaan normal diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka janji Tuhan bahwa: "Sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar", akan benar-benar kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam memilih Presiden nantinya, tentu yang kita perlu dukung adalah kandidat yang memiliki KOMPETENSI manajemen pemerintahan, bernegara dan bermasyarakat yang mumpuni. Bagaimana melihat hal ini? tentu saja dari "track record" sepanjang perjalanan hidup sang kandidat di berbagai kesempatan lain saat mendapat "amanah" sebagai pemimpin, apakah pemimpin organisasi politik, profesi, lembaga negara, lembaga bisnis, LSM dan sebagainya.
Karena kita semua bukan "muhajirin" atau pendatang di negeri kita ini, tentu kitapun memiliki kemewahan untuk menilai KARAKTER figur yang akan kita dukung sebagai "Imam" di dalam memimpin negara ini, setidaknya dalam lima tahun ke depan. Saya yakin kita bisa melakukan penilaian ini secara arif bijaksana karena figur "imam" yang nantinya akan diusulkan saya yakin bukan "tarzan" dari rimba raya yang tidak kita kenal siapa ayahnya, ibunya, kelakuannya dan tindak tanduknya selama ini.
Bila nantinya terpilih salah seorang diantara kita yang menjadi "Imam" negara ini, maka siapapun yang usulannya tidak terakomodasi sebaiknya berbesar hati untuk menjadi pengikut (makmum) yang santun. Ini terutama penting dihayati oleh saudara-saudari saya yang beragama Islam karena sepanjang hidup saya belum pernah melihat ada demo di depan mesjid yang memprotes penunjukan Imam mesjid. Kalau demo memprotes panitia pembangunan mesjid, pernah sih beberapa kali, tapi tidak sampai anarkis dan tidak dilakukan saat sholat sedang berlangsung, apalagi pakai pengeras suara "TOA" yang memekakkan telinga.
Bagi setiap pendapat yang berbeda, tetap tersedia mekanisme menjadi "oposisi". Kalau urusan mesjid barangkali bisa diselesaikan dengan membangun mesjid sendiri sambil mengumpulkan jemaah yang sepaham (Inipun sudah tergolong tidak bijak). Tapi kalau urusan oposisi dalam hal bernegara, rasanya tidak bijak untuk membuat "negara baru".
Apapun bentuk alternatif "oposisi" yang dipilih, jangan sampai menjadi oposisi yang destruktif, karena yakinlah bila Anda atau keturunan Anda masih berkeinginan menjadi Imam di kemudian hari, salah satu yang dinilai oleh rakyat adalah KARAKTER yang Anda tunjukkan saat berada pada posisi sebagai "OPOSISI".
Jadi mari kita sambut suksesi kepemimpinan di negeri ini (baik walikota, Bupati, Gubernur maupun Presiden) dengan terutama mempertimbangkan aspek KOMPETENSI dan KARAKTER calon yang akan diusulkan. Karena bagaimanapun tanggungjawab akan dipikul bersama antara yang dipilih dan yang memilihnya.
Selamat berkompetisi secara sehat dan santun agar kita semua yang hidup di era ini tidak menjadi contoh buruk bagi generasi berikutnya. Salam Persaudaraan Dunia Maya.
Jakarta 09 Februari 2009
Ben Baharuddin Nur
(pengamat).
Langganan:
Postingan (Atom)