Senin, 09 Februari 2009

Hmm... Sebuah pertanyaan yang sangat substantif baru saja dilemparkan mba Risa di forum Pilpres Republik Facebook Nusantara (RFN). Saya yakin moderator bukan hanya sangat setuju dengan pertanyaan ini, bahkan seharusnya berterimakasih kepada mba Risa dan mba Stany telah membantu memberi bobot pada forum ini.

Hakekatnya kita semua terlahir sebagai pemimpin, sebagai yang terbaik dan paling ligitimate, setidaknya yang ter... dari sekian puluh bahkan ratus juta spermatozoa (maaf) yang bersaing untuk lahir sebagai manusia. Kalau kita sepakat bahwa kita semua adalah pemimpin (laki & perempuan), maka pertanyaannya, lalu siapa yang jadi pengikutnya? Jawabnya kita semua hakekatnya juga adalah pengikut (followers) pada saat yang bersamaan. Pengikut berarti orang yang tergantung. Bukankah saat nongol ke bumi ini nggak langsung bisa jalan apalagi ngoceh, kita bisa hidup seperti sekarang karena ada ibu, keluarga dan lain-lain yang ngasupi kita?

Nah, pemimpin dalam konteks pertanyaan mba Risa dan Stany tentu saja yang dimaksud adalah menjadi presiden, entah sekedar for fun di FB atau menjadi Presiden di dunia nyata. Semua orang pada hakekatnya bisa merasa mampu dan bisa merasa paling layak jadi pemimpin (subyektivitas ego - wajar). Tapi kembali lagi bahwa yang menentukan kualitas kepemimpinan seseorang adalah mereka yang berada pada posisi pengikut (pihak yang dipimpin).

Seseorang atau sekelompok orang menjadi pengikut pada dasarnya karena keterpengaruhan. Maka ketika seorang yang boleh jadi kita sebut pemimpin besar karena banyak pengikutnya, maka tanyalah orang-orang yang mengikutinya, mengapa mereka ikut. Maka cermatilah kemungkinan jawaban berikut:

"Habis, orangnya royal banget. Emang orangnya tajir. Bayangin setiap pengikut baru langsung dibeliin seragam, dicariin lapangan kerja dan sebagainya. Wah, pokoknya dahsyat deh" Maaf ini adalah model keterpengaruhan karena utilitas (Pemimpin seperti ini berpengaruh dan diikuti selagi masih mampu menciptakan ketergantungan langsung atas manfaat yang diberikan). Ini gak mungkin dilakukan oleh calon presiden FB, saya yakin. (Analisis: Pemimpin yang menggunakan pendekatan ini, termasuk di dalamnya bagi2 sembako tidak cukup langgeng).

"Lha siapa lagi yang layak kita jadikan pemimpin selain dia? Dia kan satu-satunya yang sesuku dengan kami, lagian masih ada hubungan keluarga dan keluarganya memang keturunan raja turun temurun." Maaf ini adalah model keterpengaruhan genetis dan primordial sektarian. (Analisis: Pemimpin yang hanya mengandalkan pendekatan ini biasanya cukup populer tapi lingkup keterpengaruhannya relatif sempit sebatas mereka yang sesuku, rumpun keluarga dan semacamnya).

"Saya gak tahu mengapa saya memilih dia. Pokoknya saya merasa apa yang dia sampaikan, meski belum terbukti, setidaknya sama dengan yang saya pikirkan. Lagi pula orangnya rendah hati banget, santun dan sangat sederhana, berani, tegas dan sabar. Saya tahu dia tidak punya cukup modal materi untuk bersaing dengan kandidat lain, apalagi melawan incumbent, tapi saya yakin banyak orang yang akan membantunya secara urunan. Janjinya gak muluk-muluk, dan saya kira disitulah daya tariknya dibanding kandidat lain yang mengumbar janji. Pokoknya dia adalah idola saya." Maaf ini adalah model keterpengaruhan berbasis ikatan emosional (heart), keyakinan (soul) dan intelektualitas (mind) plus karakter tokoh. Kalo mau liat contohnya, tanya aja para pengikut Jenderal Soedirman (kalo masih ada yang hidup). Mengapa mereka begitu setia mengawal beliau di atas tandu berjuang di tengah hutan belantara? Contoh anyar lainnya adalah Mahatma Gandhi.

Yang terakhir ini biasanya ikatannya akan lebih langgeng. Pengikutnya siap memikul beban bersama pemimpinnya, meski para pengikut ini cukup mendertita saat mendukung orang yang dipimpinnya tapi mereka terobsesi oleh mimpi dan keyakinan bahwa hari cerah akan datang di bawah kepemimpinan tokoh yang mereka dukung.

Nah, kembali ke pertanyaan mba Risa, apa yang membuat seseorang merasa mampu menjadi pemimpin? Jawabannya mungkin mereka merasa memiliki salah satu dari sumber kekuatan pengaruh yang saya sebutkan tadi. Karena baru merasa, maka itu pasti subyektif. Pada akhirnya perjalanan waktulah yang akan menjelaskan bahwa sesuatu yang sebelumnya subyektif adalah obyektif adanya.

Tapi kalau di FB banyak yang acung jari untuk jadi Calon Presiden Facebook Nusantara, masih sulit dianalisis motifnya. Soalnya konsekuensi moril dan materil mengacung tangan di sini relatif kecil, paling juga dicibirin oleh member lain atau kalo ada yang sebelnya kelewatan hanya nulis sebaris dua baris kata. Namanya juga forum dunia maya, apalagi sejak awal di declare: just for fun hehehe..

Nah, begitu kira-kira tanggapan saya mba Risa dan mba Stany serta rekan-rekan sekalian. Saya menjawab ini bukan untuk gagah-gagahan pamer pengetahuan, karena pengetahuan sayapun tak lebih besar dari sebiji debu di hamparan padang pasir pengetahuan dari Sang Khalik Yang Maha Mengetahui. Ini sekedar sharing, that's all ! Salam Persaudaraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar